Kenapa harus kebahagiaanku part 4
#WARNING Typo bertebaran di mana mana.maklum yah..
Part ini lumayan panjang.
Happy reading.
Dhira memalingkan wajahnya menahan tangis.dia melihat kakanya dan Rafkha sedang makan juga di sana dan Dhina sedang menyuapi Rafkha.Dhira menghapus air matanya kasar tapi tak lama kemudian air mata yang lain meluncur di pipinya.Rio yang melihat Dhira tiba tiba menangis,menatap heran Dhira.
"Kamu kenapa ra,ko nangis?"Tanya Rio heran.
"Aku nggk papa ko aku pulang duluan yah."Jawab Dhira beranjak pergi.tapi di tahan oleh Rio dengan menarik lengan Dhira.
"Kenapa?."Tanya Rio memegang pergelangan tangan Dhira.
"Aku harus pergi."kata Dhira melepas pegangan tangan Rio dan berlari.Rio mengambil dompetnya dan menaruh beberapa lembar uang ratusan ribu lalu berlari menyusul Dhira.Dhira tidak memperdulikan orang orang yang marah padanya karna berlari dan menabrak mereka tak memperdulikan orang orang yang menatap heran dan lainnya.dia terus berlari sekuat tenaga sampai dia tiba di sebuah taman dan duduk di bangku taman yang kosong.dia menangis sesenggukan.
"Hiks hiks aku udah sering lihat adegan itu tapi kenapa rasanya masih sangat sankit."Kata Dhira pelan.tanpa di sadari Dhira Rio duduk di sampingnya.Rio mengambil saputangan miliknya dan menyodorkan saputangannya pada Dhira.Dhira terkejut lalu melihat ke sebelahnya.Rio malah tersenyum.
"Mungkin kamu butuh ini."Kata Rio masih menyodorkan saputangannya.Dhira mengambil sapu tangan yang di sodorkan Rio dan menghapus air matanya.Rio hanya diam menunggu Dhira berhenti menangis tapi rupanya Dhira tak kunjung berhenti menangis sampai hari sudah malam.Rio melirik jam di pergelangan tangannya.jam 06.37 malam, Rio mendesah dia sudah mulai lapar orang dia belum makan dari tadi siang.oh iyah Adni menghubungi Rio tadi menanyakan kemana mereka pergi dan Rio hanya menjawab kalo Dhira sedang cari ketenangan dan dia sedang menemaninya lalu menyuruh Adni nggk usah kawatir dan langsung menutup panggilan.
"Ra udahan dong nangisnya,laper tau."Kata Rio menegur Dhira yang masih nangis.setelah lama diam terus.
"Apa hubungannya sama aku yang nangis,kalo kamu laper tinggal makan aja kali."Kata dhira masih menangis.
"Ya ada lah kan aku nungguin kamu,lagian nggk cape apa nangis terus kalo air matanya terus keluar nanti abis loh,lagian udah ber ember ember air mata yang keluar dari mata kamu."Jawab Rio sedikit bercanda agar Dhira tidak menangis lagi.
"Kamu tinggal makan aja kali,Ini belum seberapa aku udah sering kaya gini tapi nggk pernah tuh aku kehabisan air mata, kalo emang aku akan kehabisan air mata aku akan senang dengan begitu aku nggk akan pernah nagis lagi."Jawab Dhira datar.
"Aku nggk bisa makan sendiri,udah nangisnya,temenin aku makan aja yuk ."Jawab dan ajak Rio pada Dhira karna usahanya gagal dan bingung harus bilang apa masa Dhira mau air matanya abis biar nggk nangis lagi.dasar gadis bodoh.
"Kasian juga sih Rio dia nggk makan siang gara gara aku lagian dia baik sama aku,mana mau nungguin aku sampe malam kaya gini lagi, masa aku tega dia nggk makan malam karna aku?kayanya nggk ada salahnya deh."Batin Dhira menatap Rio.
"Ra,Dhira."Kata Rio mengibaskan tangannya di depan muka Dhira karna Dhira malah bengong.dhira mengerjapkan matanya beberapa kali.lalu menghapus air matanya lagi.
"Ya udah ayo."Kata Dhira berdiri.
"Kemana?"Tanya Rio bingung.
"Katanya mau makan ayo aku ada tempat favorit loh."Kata Dhira menarik lengan Rio agar berdiri.Rio tersenyum dan mengikuti langkah Dhira membawanya.langkah mereka terhenti di depan kedai pinggir jalan yang kecil tapi bersih.
"Kita makan di sini yah."Kata Dhira mengajak Rio masuk kedalam kedai itu dan duduk di meja paling pojok.
"Di sini itu sate kambing sama gule kambingnya enak banget loh,kamu mau pesen?"Tanya Dhira,tapi Rio hanya diam karna dia lega Dhira nggk sedih lagi.
"Harusnya aku tau kamu nggk mungkin mau makan di tempat kaya gini."Kata Dhira lesu berpikir Rio tidak suka makan di tempat yang sederhana seperti itu.
"Eh nggk ko aku suka tempatnya,aku mau pesen apa yang tadi kamu bilang enak."Kata Rio tersadar dari lamunanya yang sedang memikirkan Dhira.
"Beneran?"Tanya Dhira nggk percaya.
"Beneran lah dasar chuby."Kata Rio mencubit pipi chuby Dhira.
"Nggk usah cubit cubit juga kali,sakit tau."Kata Dhira mengelus pipinya lalu berjalan menuju tempat memesan makanan(nggk tau namanya apa).
"Bu Rani."Kata Dhira menghampiri ibu paruh baya pemilik kedai kecil itu.
"Dhira,udah lama ibu nggk liat kamu."Kata ibu itu tersenyum.Dhira membalas senyuman bu Rani.
"Bu,Dhira pesen dua porsi sate kambing sama gule kambingnya yah.trus teh manisnya 2"Kata Dhira.
"Iya,nanti ibu antarkan."Jawab bu Rani.
"Ya udah Dhira ke sana dulu yah bu."Kata Dhira berlalu menuju tempat duduk Rio.
"Ko kamu kaya udah akrab gitu sama pemilik kedai ini."Tanya Rio heran.
"Kan aku udah sering ke sini."Jawab Dhira.
"Oooohhh."Rio hanya beroh ria.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang.
"Makasih yah bu."Kata Dhira.
"Sama sama,oh yah Dhira ini siapa pacarnya yah."Tanya Bu Rani melihat Dhira bersama Rio.karna tak biasanya dia bawa teman.
"Bukan bu,dia teman saya namanya Rio."Kata Dhira menjelaskan.
"Iya bu,saya Rio."Kata Rio memperkenalkan dirinya.
"Wah nak Rio ini tampan sekali,ibu kira kalian pacaran kalian cocok,lagian nggk biasanya Dhira bawa temen ke sini."Kata Bu Rani ramah,dan Rio hanya tersenyum.
"Ya sudah ibu kerja dulu banyak pesenan."Kata bu Rani dan hanya dia jawab anggukan oleh Rio dan Dhira.
"Seneng banget yang dapat pujian."Kata Dhira menyindir.setelah Bu Rani pergi.
"Biasa aja."Kata Rio melahap sate miliknya.
"Enak banget nih sate,kalo gulenya enak nggk yah?."Kata Rio lalu memakan gulenya.dinda hanya geleng geleng kepala melihat cara makan Rio.
"Makannya biasa aja kali kaya orang nggk makan setaun aja."Cibir Dhira melahap gule kambingnya.
"Yeeeeh aku kan laper dari tadi siang belum makan."Kata Rio membela diri.
"Iya iya."Kata Dhira menyerah.setelah itu tidak ada lagi percakapan antara mereka yang ada hanya suara dentingan garpu dan sendok yang saling beradu.
Part ini lumayan panjang.
Happy reading.
Dhira memalingkan wajahnya menahan tangis.dia melihat kakanya dan Rafkha sedang makan juga di sana dan Dhina sedang menyuapi Rafkha.Dhira menghapus air matanya kasar tapi tak lama kemudian air mata yang lain meluncur di pipinya.Rio yang melihat Dhira tiba tiba menangis,menatap heran Dhira.
"Kamu kenapa ra,ko nangis?"Tanya Rio heran.
"Aku nggk papa ko aku pulang duluan yah."Jawab Dhira beranjak pergi.tapi di tahan oleh Rio dengan menarik lengan Dhira.
"Kenapa?."Tanya Rio memegang pergelangan tangan Dhira.
"Aku harus pergi."kata Dhira melepas pegangan tangan Rio dan berlari.Rio mengambil dompetnya dan menaruh beberapa lembar uang ratusan ribu lalu berlari menyusul Dhira.Dhira tidak memperdulikan orang orang yang marah padanya karna berlari dan menabrak mereka tak memperdulikan orang orang yang menatap heran dan lainnya.dia terus berlari sekuat tenaga sampai dia tiba di sebuah taman dan duduk di bangku taman yang kosong.dia menangis sesenggukan.
"Hiks hiks aku udah sering lihat adegan itu tapi kenapa rasanya masih sangat sankit."Kata Dhira pelan.tanpa di sadari Dhira Rio duduk di sampingnya.Rio mengambil saputangan miliknya dan menyodorkan saputangannya pada Dhira.Dhira terkejut lalu melihat ke sebelahnya.Rio malah tersenyum.
"Mungkin kamu butuh ini."Kata Rio masih menyodorkan saputangannya.Dhira mengambil sapu tangan yang di sodorkan Rio dan menghapus air matanya.Rio hanya diam menunggu Dhira berhenti menangis tapi rupanya Dhira tak kunjung berhenti menangis sampai hari sudah malam.Rio melirik jam di pergelangan tangannya.jam 06.37 malam, Rio mendesah dia sudah mulai lapar orang dia belum makan dari tadi siang.oh iyah Adni menghubungi Rio tadi menanyakan kemana mereka pergi dan Rio hanya menjawab kalo Dhira sedang cari ketenangan dan dia sedang menemaninya lalu menyuruh Adni nggk usah kawatir dan langsung menutup panggilan.
"Ra udahan dong nangisnya,laper tau."Kata Rio menegur Dhira yang masih nangis.setelah lama diam terus.
"Apa hubungannya sama aku yang nangis,kalo kamu laper tinggal makan aja kali."Kata dhira masih menangis.
"Ya ada lah kan aku nungguin kamu,lagian nggk cape apa nangis terus kalo air matanya terus keluar nanti abis loh,lagian udah ber ember ember air mata yang keluar dari mata kamu."Jawab Rio sedikit bercanda agar Dhira tidak menangis lagi.
"Kamu tinggal makan aja kali,Ini belum seberapa aku udah sering kaya gini tapi nggk pernah tuh aku kehabisan air mata, kalo emang aku akan kehabisan air mata aku akan senang dengan begitu aku nggk akan pernah nagis lagi."Jawab Dhira datar.
"Aku nggk bisa makan sendiri,udah nangisnya,temenin aku makan aja yuk ."Jawab dan ajak Rio pada Dhira karna usahanya gagal dan bingung harus bilang apa masa Dhira mau air matanya abis biar nggk nangis lagi.dasar gadis bodoh.
"Kasian juga sih Rio dia nggk makan siang gara gara aku lagian dia baik sama aku,mana mau nungguin aku sampe malam kaya gini lagi, masa aku tega dia nggk makan malam karna aku?kayanya nggk ada salahnya deh."Batin Dhira menatap Rio.
"Ra,Dhira."Kata Rio mengibaskan tangannya di depan muka Dhira karna Dhira malah bengong.dhira mengerjapkan matanya beberapa kali.lalu menghapus air matanya lagi.
"Ya udah ayo."Kata Dhira berdiri.
"Kemana?"Tanya Rio bingung.
"Katanya mau makan ayo aku ada tempat favorit loh."Kata Dhira menarik lengan Rio agar berdiri.Rio tersenyum dan mengikuti langkah Dhira membawanya.langkah mereka terhenti di depan kedai pinggir jalan yang kecil tapi bersih.
"Kita makan di sini yah."Kata Dhira mengajak Rio masuk kedalam kedai itu dan duduk di meja paling pojok.
"Di sini itu sate kambing sama gule kambingnya enak banget loh,kamu mau pesen?"Tanya Dhira,tapi Rio hanya diam karna dia lega Dhira nggk sedih lagi.
"Harusnya aku tau kamu nggk mungkin mau makan di tempat kaya gini."Kata Dhira lesu berpikir Rio tidak suka makan di tempat yang sederhana seperti itu.
"Eh nggk ko aku suka tempatnya,aku mau pesen apa yang tadi kamu bilang enak."Kata Rio tersadar dari lamunanya yang sedang memikirkan Dhira.
"Beneran?"Tanya Dhira nggk percaya.
"Beneran lah dasar chuby."Kata Rio mencubit pipi chuby Dhira.
"Nggk usah cubit cubit juga kali,sakit tau."Kata Dhira mengelus pipinya lalu berjalan menuju tempat memesan makanan(nggk tau namanya apa).
"Bu Rani."Kata Dhira menghampiri ibu paruh baya pemilik kedai kecil itu.
"Dhira,udah lama ibu nggk liat kamu."Kata ibu itu tersenyum.Dhira membalas senyuman bu Rani.
"Bu,Dhira pesen dua porsi sate kambing sama gule kambingnya yah.trus teh manisnya 2"Kata Dhira.
"Iya,nanti ibu antarkan."Jawab bu Rani.
"Ya udah Dhira ke sana dulu yah bu."Kata Dhira berlalu menuju tempat duduk Rio.
"Ko kamu kaya udah akrab gitu sama pemilik kedai ini."Tanya Rio heran.
"Kan aku udah sering ke sini."Jawab Dhira.
"Oooohhh."Rio hanya beroh ria.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang.
"Makasih yah bu."Kata Dhira.
"Sama sama,oh yah Dhira ini siapa pacarnya yah."Tanya Bu Rani melihat Dhira bersama Rio.karna tak biasanya dia bawa teman.
"Bukan bu,dia teman saya namanya Rio."Kata Dhira menjelaskan.
"Iya bu,saya Rio."Kata Rio memperkenalkan dirinya.
"Wah nak Rio ini tampan sekali,ibu kira kalian pacaran kalian cocok,lagian nggk biasanya Dhira bawa temen ke sini."Kata Bu Rani ramah,dan Rio hanya tersenyum.
"Ya sudah ibu kerja dulu banyak pesenan."Kata bu Rani dan hanya dia jawab anggukan oleh Rio dan Dhira.
"Seneng banget yang dapat pujian."Kata Dhira menyindir.setelah Bu Rani pergi.
"Biasa aja."Kata Rio melahap sate miliknya.
"Enak banget nih sate,kalo gulenya enak nggk yah?."Kata Rio lalu memakan gulenya.dinda hanya geleng geleng kepala melihat cara makan Rio.
"Makannya biasa aja kali kaya orang nggk makan setaun aja."Cibir Dhira melahap gule kambingnya.
"Yeeeeh aku kan laper dari tadi siang belum makan."Kata Rio membela diri.
"Iya iya."Kata Dhira menyerah.setelah itu tidak ada lagi percakapan antara mereka yang ada hanya suara dentingan garpu dan sendok yang saling beradu.
******
"Bu, Dhira dan Rio pulang dulu yah."Pamit dhira.
"Iya dhira hati hati di jalan yah jangan ngebut bawa mobilnya nak Rio."Kata Bu Rani tersenyum.
"Iya bu tenang aja."Kata Rio.
"Ya udah bu sampai jumpa."Kata Dhira dan Rio dan berlalu pergi.mengingat Rio tidak membawa mobil kesini terpaksa mereka berjalan kaki menuju mall tempat Rio memarkirkan mobilnya.
"Makasih yah."Kata Dhira sambil terus berjalan di samping Rio.
"Buat apa?"Tanya Rio bingung tiba tiba dhira berterima kasih padanya.
"Untuk semuanya,kamu udah nungguin aku yang nangis sampe malam dan sampe sampe perut kamu keroncongan,udah gitu tadi kamu teraktir aku lagi.padahalkan kita baru kenal."Jawab Dhira.
"Sama sama."Kata Rio tersenyum menatap Dhira di sampingnya.
"Kalo gitu kamu mau nggk jadi sahabat aku?"Tanya Dhira berhenti berjalan menatap Rio membuat Rio pun melakukan hal yang sama.Rio pura pura berpikir.
"Emmmm gimana yah,Oke sahabat."Kata Rio.Dhira tersenyum dan menautkan kelingkingnya dan kelingking Rio.
"Udah malem kamu aku anter aja yah."Tawar Rio melihat jam di tangannya.
"Tapi..'
"Kan kamu sendiri yang bilang kalo kita adalah sahabat,jadi aku sebagai sahabat kamu berhak dong mastiin kamu selamat sampai rumah kamu."Kata Rio menyela perkataan Dhira.
"Makasih yah."Kata Dhira tulus mereka berdua berjalan menuju parkiran Mall sambil terus bercanda sepanjang jalan.
Baru kali ini Dhira bisa tertawa lepas setelah kejadian Rafkha yang di suruh dekat dengan Dhina.
"Iya dhira hati hati di jalan yah jangan ngebut bawa mobilnya nak Rio."Kata Bu Rani tersenyum.
"Iya bu tenang aja."Kata Rio.
"Ya udah bu sampai jumpa."Kata Dhira dan Rio dan berlalu pergi.mengingat Rio tidak membawa mobil kesini terpaksa mereka berjalan kaki menuju mall tempat Rio memarkirkan mobilnya.
"Makasih yah."Kata Dhira sambil terus berjalan di samping Rio.
"Buat apa?"Tanya Rio bingung tiba tiba dhira berterima kasih padanya.
"Untuk semuanya,kamu udah nungguin aku yang nangis sampe malam dan sampe sampe perut kamu keroncongan,udah gitu tadi kamu teraktir aku lagi.padahalkan kita baru kenal."Jawab Dhira.
"Sama sama."Kata Rio tersenyum menatap Dhira di sampingnya.
"Kalo gitu kamu mau nggk jadi sahabat aku?"Tanya Dhira berhenti berjalan menatap Rio membuat Rio pun melakukan hal yang sama.Rio pura pura berpikir.
"Emmmm gimana yah,Oke sahabat."Kata Rio.Dhira tersenyum dan menautkan kelingkingnya dan kelingking Rio.
"Udah malem kamu aku anter aja yah."Tawar Rio melihat jam di tangannya.
"Tapi..'
"Kan kamu sendiri yang bilang kalo kita adalah sahabat,jadi aku sebagai sahabat kamu berhak dong mastiin kamu selamat sampai rumah kamu."Kata Rio menyela perkataan Dhira.
"Makasih yah."Kata Dhira tulus mereka berdua berjalan menuju parkiran Mall sambil terus bercanda sepanjang jalan.
Baru kali ini Dhira bisa tertawa lepas setelah kejadian Rafkha yang di suruh dekat dengan Dhina.
*****
Dhira tertidur waktu perjalanan pulang di mobil Rio.Rio menatap wajah Dhira mata lentiknya hidung mancungnya bibir mungil dan tipis yang berwarna merah,halis tipisnya dan pipi chubynya dia tercengang melihat bekas memar di pipi kanannya.
"Apa dia di pukul seseorang."Gumam rio pelan.Rio menepikan mobilnya dan memeriksa memar Dhira Rio teringat perkataan Dhira di taman "kalo emang aku akan kehabisan air mata aku akan senang karna aku tak akan menangis lagi,apa memang begitu menderita kehidupanmu sampai kau ingin kehabisan air mata."Batin Rio,dhira yang merasakan ada yang memegang pipinya terbangun.Rio gelagapan dan menjauh dari Dhira.
"Rio,kita dimana."Tanya Dhira bingung karna mereka berhenti di tepi jalan..
"Eh itu apa eh.."
"Oh iya kamu kan nggk tau rumah aku di mana."Kata Dhira teringat bahwa dia belum memberi tahu rio di mana alamat Rumahnya.
"Iya itu maksud aku."Kata Rio gugup.
"Untung aja."Batin Rio.Dhira memberi tahu alamatnya pada Rio dan Rio pun melajukan mobilnya menuju alamat rumah yang di berikan Dhira.
"Apa dia di pukul seseorang."Gumam rio pelan.Rio menepikan mobilnya dan memeriksa memar Dhira Rio teringat perkataan Dhira di taman "kalo emang aku akan kehabisan air mata aku akan senang karna aku tak akan menangis lagi,apa memang begitu menderita kehidupanmu sampai kau ingin kehabisan air mata."Batin Rio,dhira yang merasakan ada yang memegang pipinya terbangun.Rio gelagapan dan menjauh dari Dhira.
"Rio,kita dimana."Tanya Dhira bingung karna mereka berhenti di tepi jalan..
"Eh itu apa eh.."
"Oh iya kamu kan nggk tau rumah aku di mana."Kata Dhira teringat bahwa dia belum memberi tahu rio di mana alamat Rumahnya.
"Iya itu maksud aku."Kata Rio gugup.
"Untung aja."Batin Rio.Dhira memberi tahu alamatnya pada Rio dan Rio pun melajukan mobilnya menuju alamat rumah yang di berikan Dhira.
*****
Dhira membuka pintu mobil Rio dan menutupnya.
"Makasih udah anterin aku."Kata Dhira pada Rio yang membuka kaca mobilnya setengah.
"Sama sama,Aku pulang dulu yah."Kata Rio.
"Iya ,hati hati."Kata Dhira melambaikan tangannya.
"Bye."Kata Rio
"Bye."Jawab Dhira.
lalu mobil Rio pun pergi Dhira membalikan badannya dan langsung melihat Rafkha tengah menatapnya,Dhira tersenyum dan mendekati Rafkha,tapi Rafkha malah menatapnya dengan pandangan marahh,tentu siapa yang tak marah kekasihnya jalan dg pria lain sampai malam begini.Rafkha langsung menarik lengan Dhira menuju taman belakang rumah,
"Dari mana aja kamu hah,pacar macam apa yang jalan dengan laki laki lain sampai larut malam begini."Kata Rafkha menatap Dhira tajam.
"Dia cuma temen ko,lagian dia kan sepupunya Adni."Kata Dhira berusaha melepas cengkraman tangan Rafkha dari pergelangan tangannya.
"Tapi kenapa kalian cuma berdua hah?."Kata Rafkha masih emosi dan mengeratkan cengkraman tangannya.
"Sakit Raf,lepasin aku bisa jelasin semuanya."Kata Dhira kesakitan.
"Apa hah?apa?."Kata Rafkha masih marah.
"Tadi aku sama dia cuma..."
"Udah lah Dhir aku udah nggk percaya lagi sama kamu."Kata Rafkha berlalu pergi.meninggalkan Dhira yang menangis.
"Hiks hiks Kenapa sih Raf sikap kamu sekarang berubah sama aku?kamu bukan Rafkha yang aku kenal,apa kamu juga akan berhenti jadi hiks cahaya satu satunya yang aku miliki?"Kata Dhira menatap punggung Rafkha menjauh.
*****
Dhira berangkat ke kampus dengan mobilnya tapi di tengah perjalanan ban mobil Dhira kempes.dia keluar dari mobilnya.
"Aduuuhhh nih mobil nggk bisa di ajak kompromi banget sih,malah kempes bannya dasar."Gerutu Dhira sebal.tak lama kemudian mobil Rafkha datang Dhira merasa lega karna dia pikir Rafkha akan berhenti hanya untuk sekedar menawarkan bantuan ternyata enggak dia berusaha kuat agar air matanya tak jatuh.
"Apa kamu masih marah?"Lirih Dhira menatap mobil Rafkha yang makin jauh.
Di lain sisi Rio sedang berangkat menuju kantor papahnya tapi dia melihat Dhira di pinggir jalan.dia menepikan mobilnya tak jauh dari tempat Dhira berdiri.Rio keluar dari mobilnya.Dhira tak melihat Rio datang karna posisi tubuhnya membelakangi Rio.
"Aduuuhhh nih mobil nggk bisa di ajak kompromi banget sih,malah kempes bannya dasar."Gerutu Dhira sebal.tak lama kemudian mobil Rafkha datang Dhira merasa lega karna dia pikir Rafkha akan berhenti hanya untuk sekedar menawarkan bantuan ternyata enggak dia berusaha kuat agar air matanya tak jatuh.
"Apa kamu masih marah?"Lirih Dhira menatap mobil Rafkha yang makin jauh.
Di lain sisi Rio sedang berangkat menuju kantor papahnya tapi dia melihat Dhira di pinggir jalan.dia menepikan mobilnya tak jauh dari tempat Dhira berdiri.Rio keluar dari mobilnya.Dhira tak melihat Rio datang karna posisi tubuhnya membelakangi Rio.
"Dhira ngapain?"Tanya Rio membuat Dhira membalikan badannya.
"Rio?eh nggk itu apa mobil aku bannya kempes tapi aku nggk bawa ban serep."Jelas Dhira agak bingung.
"Mau kuliah yah?"Tanya Rio lagi.
"Iya mana bentar lagi ada kelas."Kata Dhira sedih.
"Ya udah aku anterin aja,trus itu mobilnya biar bengkel langganan aku yang urus nanti aku telpon mereka."Kata Rio memberi solusi.sebenarnya entah kenapa dia sangat senang bertemu Dhira dan ingin berlama lama dengannya.
"Enggak ngerepotin?"Tanya Dhira kawatir dia menyusahkan Rio.
"Ya nggk lah nyantai aja kali kita kan sahabat.udah ayo cepat"Kata Rio tersenyum.
"Iya bentar yah aku ambil tas dulu."Kata Dhira berlari mengambil tasnya di dalam mobilnya.lalu kembali kepada Rio membawa tas selempangannya dan beberapa buku tebal.
"Yuk."Kata Dhira.
"Ayo."Jawab Rio mereka pun masuk mobil Rio dan meninggalkan mobil Dhira.
"Kamu mau kemana sih yo,rapih banget?"Tanya Dhira heran melihat Rio telihat rapih.
"Ko kamu panggil aku yo,Aku mau ke kantor papah aku,aku di suruh kerja di sana."Protes Rio mendengar nama dirinya di panggil yo,emangnya mainan yoyo.
"Kamu juga panggil aku ra udah anggep aja itu panggilan kesayangan kita buat kamu dan aku,Emang umur kamu berapa yo?"Tanya Dhira lagi menatap Rio.
" Terserah deh,24 thn,Kenapa emangnya?"Tanya Rio mnghembuskan napas kasar karna sedikit tak suka di panggil yo balik menatap Dhira.
"Nggk kamu kan masih muda udah kerja hebat banget."Kata Dhira.
"Hebat apanya kalo aku bukan anak papah aku mungkin aku nggk bisa kerja di sana."Kata Rio santai.
"Ooohh gitu ceritanya rendah hati nih,pasti setia banget sama pacarnya."Kata Dhira sedikit tertawa.
"Aku nggk punya pacar,"jawab Rio datar.
"Ko bisa?"Tanya Dhira kaget orang seperti Rio tidak mempunyai pacar.
"Emang kamu..?"
"Waktu aku di faris aku punya pacar sih tapi baru putus tiga bulan yang lalu."Jelas Rio terlihat biasa.
"Kenapa?"Tanya Dhira lagi.
"Karna dia selingkuh sama temen aku."Kata Rio lagi.Dhira tercengang.
"Maaf. Pasti dia wanita yang sangat bodoh nyelingkuhin kamu."Kata Dhira takut melukai perasaan Rio dan sedikit menghibur.
"Nyantai aja kali aku juga udah lupain dia ko."Kata Rio.
"Trus kamu kapan mau cerita sama aku masalah kemarin yang bikin kamu nangis."Tanya Rio membuat Dhira jadi diam karna teringat Rafkka yang tidak berhenti menolongnya tadi.
"Kalo nggk mau cerita sekarang juga nggk apa apa ko."Kata Rio melihat raut sedih di mata Dhira.
"Maaf yo,aku nggk bisa cerita sekarang."Batin Dinda.setelah itu tak ada lagi percakapan antara mereka.
"Rio?eh nggk itu apa mobil aku bannya kempes tapi aku nggk bawa ban serep."Jelas Dhira agak bingung.
"Mau kuliah yah?"Tanya Rio lagi.
"Iya mana bentar lagi ada kelas."Kata Dhira sedih.
"Ya udah aku anterin aja,trus itu mobilnya biar bengkel langganan aku yang urus nanti aku telpon mereka."Kata Rio memberi solusi.sebenarnya entah kenapa dia sangat senang bertemu Dhira dan ingin berlama lama dengannya.
"Enggak ngerepotin?"Tanya Dhira kawatir dia menyusahkan Rio.
"Ya nggk lah nyantai aja kali kita kan sahabat.udah ayo cepat"Kata Rio tersenyum.
"Iya bentar yah aku ambil tas dulu."Kata Dhira berlari mengambil tasnya di dalam mobilnya.lalu kembali kepada Rio membawa tas selempangannya dan beberapa buku tebal.
"Yuk."Kata Dhira.
"Ayo."Jawab Rio mereka pun masuk mobil Rio dan meninggalkan mobil Dhira.
"Kamu mau kemana sih yo,rapih banget?"Tanya Dhira heran melihat Rio telihat rapih.
"Ko kamu panggil aku yo,Aku mau ke kantor papah aku,aku di suruh kerja di sana."Protes Rio mendengar nama dirinya di panggil yo,emangnya mainan yoyo.
"Kamu juga panggil aku ra udah anggep aja itu panggilan kesayangan kita buat kamu dan aku,Emang umur kamu berapa yo?"Tanya Dhira lagi menatap Rio.
" Terserah deh,24 thn,Kenapa emangnya?"Tanya Rio mnghembuskan napas kasar karna sedikit tak suka di panggil yo balik menatap Dhira.
"Nggk kamu kan masih muda udah kerja hebat banget."Kata Dhira.
"Hebat apanya kalo aku bukan anak papah aku mungkin aku nggk bisa kerja di sana."Kata Rio santai.
"Ooohh gitu ceritanya rendah hati nih,pasti setia banget sama pacarnya."Kata Dhira sedikit tertawa.
"Aku nggk punya pacar,"jawab Rio datar.
"Ko bisa?"Tanya Dhira kaget orang seperti Rio tidak mempunyai pacar.
"Emang kamu..?"
"Waktu aku di faris aku punya pacar sih tapi baru putus tiga bulan yang lalu."Jelas Rio terlihat biasa.
"Kenapa?"Tanya Dhira lagi.
"Karna dia selingkuh sama temen aku."Kata Rio lagi.Dhira tercengang.
"Maaf. Pasti dia wanita yang sangat bodoh nyelingkuhin kamu."Kata Dhira takut melukai perasaan Rio dan sedikit menghibur.
"Nyantai aja kali aku juga udah lupain dia ko."Kata Rio.
"Trus kamu kapan mau cerita sama aku masalah kemarin yang bikin kamu nangis."Tanya Rio membuat Dhira jadi diam karna teringat Rafkka yang tidak berhenti menolongnya tadi.
"Kalo nggk mau cerita sekarang juga nggk apa apa ko."Kata Rio melihat raut sedih di mata Dhira.
"Maaf yo,aku nggk bisa cerita sekarang."Batin Dinda.setelah itu tak ada lagi percakapan antara mereka.
******
"Dhir mobil kamu udah di bengkel,tar sore petugas bengkel anterin ke rumah kamu."Itu lah pesan singkat dari no baru yang Dhira tau pasti dari Rio tapi yang membuat Dhira bingung adalah dari mana Rio punya no telponnya
"Kenapa dhir.?"Tanya Adni melihat temannya duduk di kantin sendirian.
"ini ko Rio bisa tau no Hp aku yah?"Tanya Dhira bingung.
"Oh itu si dari aku."Jawab Adni santai,
"Dari kamu?"Tanya Dhira memastikan.
"Iyah,oh iya katanya kamu kemarin nangis yah?"Jawab dan tanya Adni.
"Iyah."Jawab Dhira Lesu.
"Masalah apa lagi?Rafkha lagi?kamu tuh sebenernya gimana sih sama Rafkha perasaan satu bulan terakhir ini dia bikin kamu nangis mulu,cerita dong Dhir kita kan udah temenan lama."Kata Adni ingin tahu apa yang sebenernya terjadi sama Dhira dan Rafkha.
"Nggk ko cuma masalah kecil."Kata Dhira menyembunyikan kebenaran.
"Masa masalah kecil kamu sama dia diem diemannya lama banget sih,mana sekarang Rafkha nggk pernah nyamperin kita lagi aku cuma mau kasih saran yah kamu jangan salah paham kalo kamu menyukai seseorang yang hanya menorehkan luka di hati kamu mending kamu nyerah dari pada luka di hati kamu makin dalam aku nggk tau apa masalah kamu dan Rafkha tapi sejauh yang aku lihat kayanya dia yang banyak berubah jadi aku sebagai sahabat kamu ngasih saran itu."Kata Adni memberi saran.
"Apa benar yang di katakan Adni aku harus nyerah sama hubungan ini?"Batin Dhira.
"Kenapa dhir.?"Tanya Adni melihat temannya duduk di kantin sendirian.
"ini ko Rio bisa tau no Hp aku yah?"Tanya Dhira bingung.
"Oh itu si dari aku."Jawab Adni santai,
"Dari kamu?"Tanya Dhira memastikan.
"Iyah,oh iya katanya kamu kemarin nangis yah?"Jawab dan tanya Adni.
"Iyah."Jawab Dhira Lesu.
"Masalah apa lagi?Rafkha lagi?kamu tuh sebenernya gimana sih sama Rafkha perasaan satu bulan terakhir ini dia bikin kamu nangis mulu,cerita dong Dhir kita kan udah temenan lama."Kata Adni ingin tahu apa yang sebenernya terjadi sama Dhira dan Rafkha.
"Nggk ko cuma masalah kecil."Kata Dhira menyembunyikan kebenaran.
"Masa masalah kecil kamu sama dia diem diemannya lama banget sih,mana sekarang Rafkha nggk pernah nyamperin kita lagi aku cuma mau kasih saran yah kamu jangan salah paham kalo kamu menyukai seseorang yang hanya menorehkan luka di hati kamu mending kamu nyerah dari pada luka di hati kamu makin dalam aku nggk tau apa masalah kamu dan Rafkha tapi sejauh yang aku lihat kayanya dia yang banyak berubah jadi aku sebagai sahabat kamu ngasih saran itu."Kata Adni memberi saran.
"Apa benar yang di katakan Adni aku harus nyerah sama hubungan ini?"Batin Dhira.
******
Sudah dua hari ini Dhira memikirkan saran dari Adni.setiap katanya selalu terngiang di telinganya.
"Raf apa benar aku harus nyerah mempertahankan hubungan kita?tapi apa aku bisa hidup tanpa cahaya sedikit pun?apa aku bisa hidup tanpa kamu?"Lirih Dhira.
Lagu wo ai ta yang di nyanyikan Band ding Dang mengalun dari Hp Dhira menandakan ada panggilan masuk.Dhira tersadar dari lamunannya.
"Rio?ngapain dia telpon."Kata Dhira dalam hati.dia menekan tombol hijau dalam Hpnya dan mendekatkan Hpnya ke telinganya.
"Hallo yo."Kata Dinda menerima telpon.
"Hallo Ra,"jawab Rio dari seberang sana.
"Ada apa?"Tanya Dhira
"Lagi sibuk nggk,jalan yuk aku ada tiket nonton nih tadinya mau ajak Adni tapi dia ada janji sama seseorang."Jawab Rio.
"Nggk, emang Adni janji sama siapa?"Tanya Dhira lagi.
"Sama pacarnya kali."Kata Rio asal.
"Sejak kapan?"Tanya Dhira heran setaunya Adni nggk punya pacar.
"Nggk tau,jadi bisa nggk?"Jawab dan tanya Rio.
"Boleh deh dari pada di rumah sumpek."Kata Dhira.
"Ya udah aku jemput yah bentar lagi aku sampe ko,"kata Rio.
"Iya."Jawab Dhira singkat dan langsung menutup telponnya.merasa dirinya agak haus Dhira ingin ke dapur untuk ngambil minum tapi langkahnya terhenti di ruang keluarga karna melihat adegan yang sangat menyakiti hatinya menusuknya hingga dalam.Rafkha dan Dhina sedang berciuman panas.
"Rafkha."Kata Dhira keras membuat Dhina dan Rafkha menghentikan ciuman mereka.Rafkha terlihat kaget sedang Dhina menatap Dhira tak suka mungkin karna Dhira mengganggu kemesraan mereka.
Rafkha langsung menghampiri Dhira dan menyeret Dhira menjauh dari Dhina.
"Lepasin aku Raf,lepasin!"Kata Dhira membuat Rafka melepaskan pegangan tangannya.
"Aku bisa jelasin."Kata Rafkha menatap Dhira.
"Jelasin apa hah jelasin kalo kamu jatuh cinta sama ka Dhina makannya kalian ciuman kaya tadi,kamu marah aku deket sama Rio padahal dia cuma temen aku,lalu kenapa aku nggk boleh marah sama kamu."Kata Dhira sudah tidak tahan lagi rasanya benar benar sakit melihat orang yang yang dia cintai berciuman dengan wanita lain.
"Please dhir jangan kekanak kanakan deh,dia nggk seberuntung kamu dia itu..."
"Itu lagi itu lagi yang aku denger,aku nggk ngerti kenapa asal kamu tau yah raf aku juga sakit,kenapa selalu karna ka Dhina sakit makannya kalian lebih merhatiin dia nggk mamah nggk papah nggk kamu sama aja nggk ada bedanya aku benci ka Dhina karna udah ngerebut kamu dari aku."Kata Dhira makin emosi kenapa harus selalu dia yang di katai kekanak kanakan.
PLAK sebuah tamparan sangat kencang mendarat di pipi Dhira membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya.Dhira menatap orang yang menamparnya ternyata bu Sintamamahnya sendiri yang sedang menatapnya tajam.
"Anak kurang ajar kamu,"kata sang mamah.sedangkan Rafkha hanya menatap Dhira dg perasaan terkejut.
"Mamah jahat kalian jahat."Kata Dhira berlari pergi.Rafkha ingin mengejar Dhira tapi di cegat oleh Bu Sinta.
"Nggk usah di kejar anak tak tau diri itu lebih baik tenangin Dhina dia tadi nangis karna kamu milih Dhira di banding dia."Kata mmah Dhira.
"Tapi tan.."
"Udah ayo Dhira nggk penting yang lebih penting sekarang Dhina."Kata bu Sinta sedikit mendorong Rafkha agar masuk rumah.dan tersenyum ketika Rafkha masuk ke dalam rumah.
"Raf apa benar aku harus nyerah mempertahankan hubungan kita?tapi apa aku bisa hidup tanpa cahaya sedikit pun?apa aku bisa hidup tanpa kamu?"Lirih Dhira.
Lagu wo ai ta yang di nyanyikan Band ding Dang mengalun dari Hp Dhira menandakan ada panggilan masuk.Dhira tersadar dari lamunannya.
"Rio?ngapain dia telpon."Kata Dhira dalam hati.dia menekan tombol hijau dalam Hpnya dan mendekatkan Hpnya ke telinganya.
"Hallo yo."Kata Dinda menerima telpon.
"Hallo Ra,"jawab Rio dari seberang sana.
"Ada apa?"Tanya Dhira
"Lagi sibuk nggk,jalan yuk aku ada tiket nonton nih tadinya mau ajak Adni tapi dia ada janji sama seseorang."Jawab Rio.
"Nggk, emang Adni janji sama siapa?"Tanya Dhira lagi.
"Sama pacarnya kali."Kata Rio asal.
"Sejak kapan?"Tanya Dhira heran setaunya Adni nggk punya pacar.
"Nggk tau,jadi bisa nggk?"Jawab dan tanya Rio.
"Boleh deh dari pada di rumah sumpek."Kata Dhira.
"Ya udah aku jemput yah bentar lagi aku sampe ko,"kata Rio.
"Iya."Jawab Dhira singkat dan langsung menutup telponnya.merasa dirinya agak haus Dhira ingin ke dapur untuk ngambil minum tapi langkahnya terhenti di ruang keluarga karna melihat adegan yang sangat menyakiti hatinya menusuknya hingga dalam.Rafkha dan Dhina sedang berciuman panas.
"Rafkha."Kata Dhira keras membuat Dhina dan Rafkha menghentikan ciuman mereka.Rafkha terlihat kaget sedang Dhina menatap Dhira tak suka mungkin karna Dhira mengganggu kemesraan mereka.
Rafkha langsung menghampiri Dhira dan menyeret Dhira menjauh dari Dhina.
"Lepasin aku Raf,lepasin!"Kata Dhira membuat Rafka melepaskan pegangan tangannya.
"Aku bisa jelasin."Kata Rafkha menatap Dhira.
"Jelasin apa hah jelasin kalo kamu jatuh cinta sama ka Dhina makannya kalian ciuman kaya tadi,kamu marah aku deket sama Rio padahal dia cuma temen aku,lalu kenapa aku nggk boleh marah sama kamu."Kata Dhira sudah tidak tahan lagi rasanya benar benar sakit melihat orang yang yang dia cintai berciuman dengan wanita lain.
"Please dhir jangan kekanak kanakan deh,dia nggk seberuntung kamu dia itu..."
"Itu lagi itu lagi yang aku denger,aku nggk ngerti kenapa asal kamu tau yah raf aku juga sakit,kenapa selalu karna ka Dhina sakit makannya kalian lebih merhatiin dia nggk mamah nggk papah nggk kamu sama aja nggk ada bedanya aku benci ka Dhina karna udah ngerebut kamu dari aku."Kata Dhira makin emosi kenapa harus selalu dia yang di katai kekanak kanakan.
PLAK sebuah tamparan sangat kencang mendarat di pipi Dhira membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya.Dhira menatap orang yang menamparnya ternyata bu Sintamamahnya sendiri yang sedang menatapnya tajam.
"Anak kurang ajar kamu,"kata sang mamah.sedangkan Rafkha hanya menatap Dhira dg perasaan terkejut.
"Mamah jahat kalian jahat."Kata Dhira berlari pergi.Rafkha ingin mengejar Dhira tapi di cegat oleh Bu Sinta.
"Nggk usah di kejar anak tak tau diri itu lebih baik tenangin Dhina dia tadi nangis karna kamu milih Dhira di banding dia."Kata mmah Dhira.
"Tapi tan.."
"Udah ayo Dhira nggk penting yang lebih penting sekarang Dhina."Kata bu Sinta sedikit mendorong Rafkha agar masuk rumah.dan tersenyum ketika Rafkha masuk ke dalam rumah.
****
Rio baru saja sampai di depan rumah Dhira.saat dia keluar dari mobilnya dia lihat Dhira berlari sambil menangis dan darah segar keluar dari sudut bibirnya.dia langsung berlari menghampiri Dhira.
"Dhira."Panggil Rio memegang pundak Dhira.membuat Dhira berhenti berlari..
"Kamu kenapa Ra?"Tanya Rio .
Dhira bahkan lupa kalo dia ada janji dengan Rio.melihat Dhira tak menjawab dan hanya menangis.Rio bingung harus apa.
"Kita pergi dari sini yuk."Kata Rio akhirnya membawa Dhira masuk ke mobilnya.Rio menjalankan mobilnya dia sendiri bingung harus membawa Dhira ke mana.tapi dia teringat tempat yang biasa dia datangi ketika sedih Rio pun membawa Dhira ke sana.
Rio baru saja sampai di depan rumah Dhira.saat dia keluar dari mobilnya dia lihat Dhira berlari sambil menangis dan darah segar keluar dari sudut bibirnya.dia langsung berlari menghampiri Dhira.
"Dhira."Panggil Rio memegang pundak Dhira.membuat Dhira berhenti berlari..
"Kamu kenapa Ra?"Tanya Rio .
Dhira bahkan lupa kalo dia ada janji dengan Rio.melihat Dhira tak menjawab dan hanya menangis.Rio bingung harus apa.
"Kita pergi dari sini yuk."Kata Rio akhirnya membawa Dhira masuk ke mobilnya.Rio menjalankan mobilnya dia sendiri bingung harus membawa Dhira ke mana.tapi dia teringat tempat yang biasa dia datangi ketika sedih Rio pun membawa Dhira ke sana.
*****
Rio dan Dhira sedang duduk di pinggir danau.Dhira masih saja menangis.
"Dhir sebenarnya kenapa sih,kenapa kamu selalu nangis sampe kaya gini,ada apa?"Tanya Rio Dhira menatap Rio mata Dhira merah karna nangis terus darah yang keluar dari sudut bibirnya sudah mengering.Rio benar benar nggk suka liat Dhira seperti ini entah dapat dorongan dari mana Rio langsung memeluk Dhira.
"Aku aku..."Dhira berkata dengan suara serak di dalam pelukan Rio.
"Kamu bisa cerita semuanya sama aku kaloo kamu mau."Kata Rio menatap wajah Dhira lalu mengusap air mata Dhira.Dhira menganggukan kepalanya dan menceritakan semua masalahnya pada Rio dari awal sampai masalah tadi yang membuatnya menangis.entah kenapa hati Rio pun sakit mendengar cerita Dhira tentang kehidupannya.
"Kalo menurut aku Ra,kamu lebih baik akhiri hubungan kamu dari pada kamu selalu tersakiti kaya gini,karna sebuah hubungan jika di pertahankan oleh satu orang saja tidak akan berjalan lancar.sebuah hubungan harus di pertahankan oleh keduanya tapi kalo kamu berjuang sendirian kamu akan semakin sakit dan nggk akan pernah bahagia dan untuk masalah orang tua kamu,kamu jangan hanya diem kamu juga punya hak bahagia jadi janganlah terlalu lemah di hadapan ortumu dan kakamu."Kata Rio memeluk Dira.Dhira memikirkan kata kata Rio,
"Rio benar aku akan semakin sakit kalo kaya gini terus."Batin Dhira.Dia makin mengeratkan pelukannya pada Rio dia merasa nyaman di pelukan Rio.rasanya hangat.
"Dhir sebenarnya kenapa sih,kenapa kamu selalu nangis sampe kaya gini,ada apa?"Tanya Rio Dhira menatap Rio mata Dhira merah karna nangis terus darah yang keluar dari sudut bibirnya sudah mengering.Rio benar benar nggk suka liat Dhira seperti ini entah dapat dorongan dari mana Rio langsung memeluk Dhira.
"Aku aku..."Dhira berkata dengan suara serak di dalam pelukan Rio.
"Kamu bisa cerita semuanya sama aku kaloo kamu mau."Kata Rio menatap wajah Dhira lalu mengusap air mata Dhira.Dhira menganggukan kepalanya dan menceritakan semua masalahnya pada Rio dari awal sampai masalah tadi yang membuatnya menangis.entah kenapa hati Rio pun sakit mendengar cerita Dhira tentang kehidupannya.
"Kalo menurut aku Ra,kamu lebih baik akhiri hubungan kamu dari pada kamu selalu tersakiti kaya gini,karna sebuah hubungan jika di pertahankan oleh satu orang saja tidak akan berjalan lancar.sebuah hubungan harus di pertahankan oleh keduanya tapi kalo kamu berjuang sendirian kamu akan semakin sakit dan nggk akan pernah bahagia dan untuk masalah orang tua kamu,kamu jangan hanya diem kamu juga punya hak bahagia jadi janganlah terlalu lemah di hadapan ortumu dan kakamu."Kata Rio memeluk Dira.Dhira memikirkan kata kata Rio,
"Rio benar aku akan semakin sakit kalo kaya gini terus."Batin Dhira.Dia makin mengeratkan pelukannya pada Rio dia merasa nyaman di pelukan Rio.rasanya hangat.
*****
Dhira dan Adni berjalan menghampiri Rafkha.Dhira sudah memikirkan semalaman bahwa dia akan mengakhiri hubungannya dengan Rafkha sekarang sedangkan Adni sangat mendukung keputusan sahabatnya ini setelah mendengar ceritanya dari Dhira tadi pagi.setelah sampai di depan Rafkha Dhira berhenti.
"Raf,aku mau bicara sama kamu sebentar."Kata Dhira langsung pada inti tujuannya.
"Iya.kebetulan aku juga ada yang mau di omongin"Jawab Rafkha berpikir Dhira mau minta penjelasan padanya.
"Ya udah ikut aku."Kata Dhira berjalan.Rafkha mengikuti Dhira Adni juga sama.setelah sampai di belakang gedung kampus Dhira berhenti.Adni dan Rafkha pun berhenti.Dhira berbalik menatap Rafkha.
"Ad,tolong biarin aku sama Rafkha bicara empat mata."Kata Dhira dan di balas anggukan oleh Adni,Adni pun pergi meninggalkan Rafkha dan Dhira berdua.
"Dhir kamu nggk apa apa kan maaf kemarin aku..."
"Nggk usah di bahas aku cuma mau bilang sama kamu aku udah nggk kuat lagi kaya gini terus aku cape terus mempertahankan hubungan kita karna sejauh yang aku lihat yang berjuang cuma aku, aku cape terus terusan cinta sama kamu tapi hanya jadi yang kedua buat kamu, jadi aku mau kita akhiri sampe di sini sekarang kamu bebas sama kaka aku,aku nggk akan ngelarang kalian lagi,dan aku akan cari kebahagiaanku sendiri nantinya, selamat tinggal Raf."Kata Dhira langsung pergi meninggalkan Rafkha yang menyesal atas perbuatannya hanya karna ortu Dhira minta Rafkha pacaran sama Dhina dia jadi kehilangan orang yang paling dia cintai dan sayangi.tapi dia sudah terlambat dia hanya bisa menatap Dhira pergi dan akan menjauh selamanya darinya.
"Udah selesai?"Tanya Adni ketika Dhira sudah di depannya.
"Udah."Jawab Dhira ada Rasa sakit di hatinya tapi akan lebih sakit kalo dia mempertahankan hubungannya ini.Dhira dan Adni pun pergi menuju kelas mereka untuk kelas berikutnya.
"Raf,aku mau bicara sama kamu sebentar."Kata Dhira langsung pada inti tujuannya.
"Iya.kebetulan aku juga ada yang mau di omongin"Jawab Rafkha berpikir Dhira mau minta penjelasan padanya.
"Ya udah ikut aku."Kata Dhira berjalan.Rafkha mengikuti Dhira Adni juga sama.setelah sampai di belakang gedung kampus Dhira berhenti.Adni dan Rafkha pun berhenti.Dhira berbalik menatap Rafkha.
"Ad,tolong biarin aku sama Rafkha bicara empat mata."Kata Dhira dan di balas anggukan oleh Adni,Adni pun pergi meninggalkan Rafkha dan Dhira berdua.
"Dhir kamu nggk apa apa kan maaf kemarin aku..."
"Nggk usah di bahas aku cuma mau bilang sama kamu aku udah nggk kuat lagi kaya gini terus aku cape terus mempertahankan hubungan kita karna sejauh yang aku lihat yang berjuang cuma aku, aku cape terus terusan cinta sama kamu tapi hanya jadi yang kedua buat kamu, jadi aku mau kita akhiri sampe di sini sekarang kamu bebas sama kaka aku,aku nggk akan ngelarang kalian lagi,dan aku akan cari kebahagiaanku sendiri nantinya, selamat tinggal Raf."Kata Dhira langsung pergi meninggalkan Rafkha yang menyesal atas perbuatannya hanya karna ortu Dhira minta Rafkha pacaran sama Dhina dia jadi kehilangan orang yang paling dia cintai dan sayangi.tapi dia sudah terlambat dia hanya bisa menatap Dhira pergi dan akan menjauh selamanya darinya.
"Udah selesai?"Tanya Adni ketika Dhira sudah di depannya.
"Udah."Jawab Dhira ada Rasa sakit di hatinya tapi akan lebih sakit kalo dia mempertahankan hubungannya ini.Dhira dan Adni pun pergi menuju kelas mereka untuk kelas berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar